ANCAMAN INFLASI GLOBAL YANG MENGANCAM PEREKONOMIAN INDONESIA



JAKARTA, TaxCenter – Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk dapat menjaga momentum dari pemulihan dan juga peningkatan perekonomian nasional.

Dalam upaya Pemerintah Indonesia dalam menjaga momentum pemulihan dan peningkatan perekonomian nasional. Muncul berbagai macam tantangan ataupun hambatan yang harus di hadapi oleh Pemerintah Indonesia.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia ialah adanya ketidakpastian global yang disebabkan adanya konflik yang terjadi antara negara Rusia dengan Ukraina, Peningkatan harga komoditas global dan resesi global.

Ibu Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan menilai bahwa Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki risiko kecil untuk masuk dalam jurang resesi.

Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa kinerja yang terjadi atas perekonomian Indonesia sampai dengan Kuartal II/2022 terus menunjukkan tren positif.

Kemudian Ibu Sri Mulyani Indrawati jika dibandingkan dengan negara negara lainnya, perekonomian domestik yang ada di Indonesia lebih dapat bertahan terhadap guncangan.

Selanjutnya Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa terdapat berbagai indikator yang menjelaskan terjadinya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari pandemi Covid-19 telah berjalan dengan baik.

Sebagai informasi bahwa perekonomian Indonesia pada saat ini juga telah melampaui level yang ada sebelum pandemi Covid-19.

Kemudian, untuk laju inflasi Indonesia juga dinilai relatif rendah jika dibandingkan dengan negara negara lainnya.

Menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati, kenaikan harga yang terjadi atas berbagai komoditas global telah memberikan dampak yang besar terhadap sejumlah negara, sehingga negara tersebut mengalami lonjakan inflasi, sampai dengan bulan Juni 2022 negara Turki mengalami inflasi yang mencapai sebesar 78,6% dan Argentina yang mencapai 64%.

Untuk Indonesia, laju inflasi yang terjadi sampai dengan bulan Juni 2022 telah mencapai 4,4%. Laju inflasi ini yang relatif rendah disebabkan karena Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) telah memainkan perannya untuk dapat meredam guncangan yang terjadi akibat adanya kenaikan atas harga komoditas.

Selanjutnya Ibu Sri Mulyani Indrawati menilai bahwa perekonomian yang terjadi di seluruh negara sedang mengalami guncangan karena adanya pandemi dan juga konflik geopolitik global.

Kemudian Ibu Sri Mulyani Indrawati juga memberikan pemaparan mengenai probabilitas atas seluruh negara yang menghadapi tantangan resesi.

Berdasarkan dari survei yang dilakukan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa negara di kawasan Asia cenderung lebih resilien jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) ataupun Eropa.

Dalam Survei tersebut untuk Probabilitas negara Asia mengalami resesi sebesar 20% sampai dengan 25% sedangkan untuk Amerika Serikat dan Eropa sebesar 405 sampai dengan 55%.

Perkoppi berharap melalui kebijakan kebijakan perekonomian yang telah di persiapkan dan juga di terapkan oleh Pemerintah Indonesia dapat terus menjaga Perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.



Kirim Pertanyaan

Pertanyaan terkirim